Senin, 31 Desember 2012

teori belajar


TEORI BELAJAR HUMANISTIK CARL ROGERS

Banyak teori belajar yang dapat digunakan para guru untuk berbagai keperluan belajar dan proses pembelajaran. Ada tiga pandangan psikologi utama, yakni pandangan psikologi Behavioristik, Kognitif, dan Humanistik. Setiap pandangan psikologi tentu di dalamnya terdapat tokoh-tokoh yang berperan. Teori belajar Behavioristik tokoh-tokohnya, antara lain Thorndike dan Pavlov. Teori belajar Kognitif tokoh-tokohnya, antara lain Gestalt, John Dewey, dan Jean Piaget. Sedangkan teori belajar Humanistik tokohnya, yaitu Arthur Combs, Abraham Maslow, dan Carl Rogers.  Pada artikel kali ini sebagai fokus utamanya adalah seorang tokoh dari Teori Belajar Humanistik, bernama Carl Rogers.
Carl Rogers lahir pada 8 Januari 1902 di Oak Park, Illinois, Chicago. Ia lahir sebagai anak keempat dari enam bersaudara. Semula Rogers menekuni bidang agama, tetapi akhirnya berpindah ke bidang psikologi.  Rogers mempelajari Psikologi Klinis di Universitas Columbia dan mendapat gelar Ph.D tahun 1931. Sebelumnya ia merintis kerja klinis di Rochester Society untuk mencegah kekerasan pada anak. Gelar Profesor diterima di Ohio State tahun 1940. Tahun 1942, ia menulis buku pertamanya berjudul Counseling and Psychoterapy, dan secara bertahap mengembangkan konsep Client-Centered Therapy. Rogers membedakan dua tipe belajar, yaitu kognitif (kebermaknaan) dan experiental (pengalaman atau signifikansi).
Rogers terkenal sebagai seorang tokoh psikologi humanis, aliran feomenologis-eksistensial, psikologi klinis dan terapis, ide-ide dan konsep teorinya banyak didapatkan dalam pengalaman-pengalaman terapeutiknya. Ide pokok dari teori-teori Rogers, yaitu individu memiliki kemampuan dalam diri sendiri untuk mengerti diri, menentukan hidup, dan menangani masalah-masalah psikisnya asalkan konselor menciptakan kondisi yang dapat mempermudah perkembangan individu untuk aktualisasi diri. Menurut Rogers, motivasi orang yang sehat adalah aktualisasi diri. Aktualisasi diri adalah proses menjadi diri sendiri dan mengembangkan sifat-sifat dan potensi-potensi psikologis yang unik. Aktualisasi diri akan dibantu atau dihalangi oleh pengalaman dan oleh belajar khususnya dalam masa kanak-kanak. Aktualisasi diri akan berubah sejalan dengan perkembangan hidup seseorang. Ketika mencapai usia tertentu (adolensi) seseorang akan mengalami pergeseran aktualisasi diri dari fisiologis ke psikologis.
Menurut Rogers yang terpenting dalam proses pembelajaran adalah pentingnya guru memperhatikan prinsip pendidikan dan pembelajaran, yaitu:
a.       Menjadi manusia berarti memiliki kekuatan yang wajar untuk belajar. Siswa tidak harus belajar tentang hal-hal yang tidak ada artinya.
b.      Siswa akan mempelajari hal-hal yang bermakna bagi dirinya. Pengorganisasian bahan pelajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa.
c.       Pengorganisasian bahan pengajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa.
d.      Belajar yang bermakna dalam masyarakat modern berarti belajar tentang proses.
Dalam bukunya Freedom To Learn, ia menunjukkan sejumlah prinsip-prinsip dasar humanistic yang penting, antara lain:
a.       Manusia mempunyai kemampuan belajar secara alami
b.      Belajar yang bermakna diperoleh siswa dengan melakukannya
c.       Belajar yang signifikan terjadi apabila materi pelajaran dirasakan murid mempunyai relevansi dengan maksud-maksud sendiri
d.      Belajar yang paling berguna secara sosial di dalam dunia modern ini adalah belajar mengenai proses belajar, suatu keterbukaan yang terus menerus terhadap pengalaman dan penyatuaannya ke dalam diri sendiri mengenai proses perubahan itu.
Salah satu model pendidikan terbuka mencakup konsep mengajar guru yang fasilitatif yang dikembangkan oleh Rogers. Ciri-ciri guru yang fasilitatif adalah:
a.       Merespon perasaan siswa
b.      Menggunakan ide-ide siswa untuk melaksanakan interaksi yang sudah dirancang
c.       Berdialog dan berdiskusi dengan siswa
d.      Menghargai siswa
e.       Kesesuaian antara perilaku dan perbuatan
f.       Menyesuaikan isi kerangka berpikir siswa
g.      Tersenyum pada siswa
Teori belajar humanisme memandang bahwa perilaku manusia ditentukan oleh faktor internal dirinya dan bukan oleh kondisi lingkungan ataupun pengetahuan. Menurut Teori belajar humanism, aktualisasi diri merupakan puncak perkembangan individu. Kebermaknaan perwujudan dirinya itu bahkan bukan saja dirasakan oleh dirinya sendiri, tetapi juga oleh lingkungan sekitarnya. Tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia. Proses belajar dianggap berhasil apabila peserta didik memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Peserta didik dalam proses belajarnya harus belajar agar lambatlaun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya.
Pendekatan humanisme diikhtisarkan, sbb:
a.       Siswa akan maju menurut iramanya sendiri dengan suatu perangkat materi yang sudah ditentukan lebih dulu untuk mencapai suatu perangkat tujuan yang telah ditentukan pula dan para siswa bebas menentukan cara mereka sendiri dalam mencapai tujuan mereka.
b.      Pendidik aliran humanistic mempunyai perhatian yang murni dalam pengembangan anak-anak, perbedaan-perbedaan individual.

Konsep Teori Belajar Humanistik
Rogers lebih melihat pada masa sekarang. Dia berpendapat bahwa masa lampau memang akan mempengaruhi cara bagaimana seseorang memandang masa sekarang yang akan mempengaruhi juga kepribadiannya. Namun, ia tetap berfokus pada apa yang terjadi sekarang bukan apa yang terjadi pada waktu itu.
Konsep diri (self concept) menurut Rogers adalah bagian sadar dari ruang fenomenal yang disadari dan disimbolisasikan. Self concept adalah kesadaran batin yang tetap mengenai pengalaman yang berhubungan dengan aku dan membedakan aku dari yang bukan aku. Konsep diri ini terbagi menjadi dua, yaitu konsep diri real dan konsep diri ideal. Untuk menunjukkan apakah kedua konsep diri tersebut sesuai atau tidak, Rogers mengenalkan dua konsep lagi, yaitu:
a.       Incongruence
Merupakan ketidakcocokan antara self yang dirasakan dalam pengalaman actual disertai pertentangan dan kekacauan batin.
b.      Congruence
Berarti situasi di mana pengalaman diri diungkapkan dengan seksama dalam sebuah konsep diri yang utuh, integral, dan sejati.

Konsepsi-konsepsi pokok dalam teori Rogers adalah:
1.      Organism, yaitu keseluruhan individu (the total individual). Organisme memiliki sifat-sifat berikut:
a.       Organisme bereaksi sebagai keseluruhan terhadap medan phenomenal dengan maksud memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.
b.      Organisme memiliki satu motif dasar, yaitu mengaktualisasikan, mempertahankan, dan mengembangkan diri.
c.       Organisme mungkin melambangkan pengalamannya. Sehingga hal itu disadari atau mungkin menolak pelambangan itu. Sehingga pengalaman-pengalaman itu tak disadari atau mungkin juga organisme itu tak memperdulikan pengalaman-pengalamannya.

2.      Medan phenomenal, yaitu keseluruhan pengalaman (the totality experience). Medan phenomenal punya sifat disadari atau tidak disadari, tergantung apakah pengalaman yang mendasari medan phenomenal itu dilambangkan atau tidak.
Self, yaitu bagian medan phenomenal yang terdiferensiasikan dan terdiri dari pola-pola pengamatan dan penilaian sadar. Self mempunyai bermacam-macam sifat:
a.       Self berkembang dari interaksi organisme dengan lingkungan.
b.      Self mungkin menginteraksikan nilai-nilai orang lain dan mengamatinya dalam bentuk yang tidak wajar.
c.       Self menginginkan konsistensi (keutuhan/kesatuan, keselarasan).



Penerapan Teori Belajar
Aplikasi teori belajar humanistik dalam pendidikan:
1.      Pendidikan humanistik
Menurut rogers (dalam Palmer, 2003) dalam proses pendidikan dibutuhkan rasa hormat yang positif, empati, dan suasana yang harmonis/ tulus, untuk mencapai perkembangan yang sehat sehingga tercapai aktualisasi diri . salah satu cara untuk mendeskripsikan pendidikan humanistik adalah dengan melihat apa yang terjadi di kelas.

2.      Pendidik yang humanistic
Psikologi humanistic memberi perhatian atas guru sebagai fasilitator. Fasilitator sebaiknya memberi perhatian kepada pencintaan suasana awal, situasi kelompok, atau pengalaman kelas. Fasilitator antara lain berfungsi untuk:
a.       membantu untuk memperoleh dan memperjelas tujuan-tujuan perorangan di dalam kelas dan juga tujuan-tujuan kelompok yang bersifat lebih umum.
b.      Mempercayai adanya keinginan dari tiap siswa untuk melaksanakan tujuan-tujuan yang bermakna bagi dirinya.
c.       Mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk belajar yang paling luas dan mudah dimanfaatkan para siswa untuk membantu mencapai tujuan mereka.
Aplikasi teori humanistic terhadap pembelajaran siswa lebih menunjuk pada ruh atau spirit selama proses pembelajaran yang mewarnai metode-metode yang diterapkan. Peran guru dalam pembelajaran humanistic adalah menjadi fasilitator bagi para siswa. Sedangkan guru memberikan motivasi, kesadaran mengenai makna belajar dalam kehidupan siswa.
Siswa berperan sebagai pelaku utama yang memaknai proses pengalaman belajarnya sendiri. Diharapkan siswa memahami potensi diri, mengembangkan potensi dirinya secara positif dan meminimalkan potensi diri yang bersifat negative.
Tujuan pembelajaran lebih kepada proses belajarnya daripada hasil belajar. Adapun proses yang umumnya dilalui, antara lain:
a.       Merumuskan tujuan yang jelas
b.      Siswa bebas mengeluarkan pendapat, memilih pilihannya sendiri, melakukan apa yang diinginkan dan menanggung resiko dari perilaku yang ditunjukkam.
c.       Evaluasi diberikan secara individual berdasarkan perolehan prestasi siswa.

Kelebihan dan Kekurangan Teori Belajar Humanistik
Kelebihan teori ini adalah bahwa teori belajar humanistic yang menekankan perlunya sikap saling menghargai dan tanpa prasangka dalam membantu individu mengatasi masalah-masalah. Lebih mengarahkan siswa untuk berpikir induktif, mementingkan pengalaman, dan membutuhkan keterlibatan siswa dalam proses belajar. Kelebihan yang lain adalah lebih menitikberatkan pada metode student-centered dengan menggunakan “komunikasi antarpribadi”, yaitu berpusat pada anak didik dengan mengembangkan potensi-potensinya
Kelemahan atau kekurangan pandangan Rogers terletak pada perhatiannya yang semata-mata melihat kehidupan diri sendiri  dan bukan pada bantuan untuk pertumbuhan serta perkembangan orang lain. Rogers berpandangan bahwa orang yang berfungsi sepenuhnya tampaknya merupakan pusat dari dunia, bukan seorang partisipan yang berinteraksi dan bertanggung jawab di dalamnya. Selain itu gagasan bahwa seseorang harus dapat memberikan respon secara realistis terhadap dunia sekitarnya masih sangat sulit diterima. Rogers juga mengabaikan aspek-aspek tidak sadar dalam tingkah laku manusia karena ia lebih melihat pada pengalaman masa sekarang dan masa depan, bukannya pada masa lampau yang biasanya penuh dengan pengalaman traumatic yang menyebabkan seseorang mengalami suatu penyakit psikologis.
Pembelajaran berdasarkan teori humanistic ini cocok untuk diterapkan pada materi-materi pembelajaran yang bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena sosial. Indicator dari keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang bergairah, berinisatif dalam belajar, dan terjadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri. Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani, tidak terikat oleh pendapat orang lain, dan mengatur pribadinya sendiri secara bertanggungjawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan, norma, disiplin atau etika yang berlaku.

TEORI BELAJAR HUMANISTIK CARL ROGERS
Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Psikologi Pendidikan



Disusun Oleh :
Amalia Dwi Hidayati 11413241003
Yosy Astari Putri 11413241031
Yudha Ari Winanda 11413241034


PENDIDIKAN SOSIOLOGI A
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2012

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar