Senin, 31 Desember 2012

peserta didik


A.    Pengertian Peserta Didik
Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pendidikan. Sosok peserta didik merupakan sosok anak yang membutuhkan bantuan orang lain untuk bisa tumbuh dan berkembang ke arah kedewasaan. Ia adalah sosok yang selalu mengalami perkembangan sejak lahir sampai meninggal dengan perubahan-perubahan yang terjadi secara wajar (Sutari Imam Barnadib, 1995).

B.     Peserta Didik Sebagai Persona
Pandangan modern tentang pendidikan dewasa ini melihat peserta didik adalah subjek atau persona, yakni makhluk yang mempribadi tidak lagi sebagai subjek yang nonpribadi sebagaimana pandangan para ahli pada abad pertengahan. Peserta didik adalah subjek yang otonom, memiliki motivasi, hasrat, ambisi, ekspresi, cita-cita, dan sebagainya. Ciri khas peserta didik yang perlu dipahami sebagaimana dijelaskan oleh Umar Tirtarahardja dan La Sulo (1994) adalah bahwa peserta didik merupakan:
1.      Individu yang memiliki potensi fisik dan psikis yang khas. Sejak lahir mereka telah memiliki potensi-potensi yang berbeda dengan individu lain.
2.      Individu yang sedang berkembang, yakni selalu ada perubahan dalam diri peserta didik secara wajar. Baik untuk diri sendiri maupun ke arah penyesuaian dengan lingkungan.
3.      Individu yang membutuhkan bimbingan individual dan perlakuan manusiawi. Meski ia merupakan makhluk yang mempunyai potensi fisik dan psikis, namun tentu saja karena kekurang dewasaannya ia membutuhkan bantuan dan bimbingan orang lain.
4.      Individu yang memiliki kemampuan untuk mandiri. Hal ini karena dalam diri anak cenderung ada keinginan memerdekakan diri dan melakukan segala sesuatunya sendiri.
Keempat ciri di atas merupakan indikasi keunikan peserta didik sebagai persona yang multidimensional. Aneka dimensi bisa menjelma pada diri peserta didik dalam interaksinya dengan lingkungan alam natural dan lingkungan sosiokultural. Dimensi-dimensi tersebut, yakni:
1.      Dimensi Individualitas
Terwujud dalam kemandirian, ketekunan, kerja keras, keberanian, kepercayaan diri, keakuan, semangat, dan ambisi.
2.      Dimensi Sosialitas
Tampak pada sikap kedermawanan, saling menolong, toleransi, kerjasama, berbagi dengan sesama, berorganisasi, dan hidup bermasyarakat.
3.      Dimensi Religiusitas
Terlihat dalam perilaku ketaatan menjalankan ajaran agama, beribadah, keyakinan adanya Tuhan, ketekunan, keikhlasan, kemauan berdakwah, dan sikap tawakal.
4.      Dimensi Historisitas
Tampak dalam kesenangan menyelidiki kisah-kisah kuno, kegemaran mencatat aneka kejadian sejarah, kesadaran akan pentingnya sejarah, dan kemauan mengkreasi sejarah.
5.      Dimensi Moralitas
Terlihat pada pengetahuannya tentang akibat-akibat yang ditimbulkan dari perilaku moral, kemampuan membedakan antara perilaku moral baik dan buruk, kemampuan menjaga perilaku ketaatan moral, dan lain-lain.
Untuk memperkuat hakekat manusia sebagai makhluk multidimensional, maka Notonagoro (Dirto Hadisusanto, Suryati Sidharto, dan Dwi Siswoyo, 1995) menambahkan bahwa secara kodrati peserta didik merupakan sosok manusia yang memiliki aneka macam kodrat, yaitu kedudukan kodrat, susunan kodrat, dan sifat kodrat.
1.      Kedudukan kodrat
Manusia bisa disebut sebagai makhluk yang berdiri sendiri di satu sisi dan makhluk ber-Tuhan di sisi yang lain.
2.      Susunan kodrat
Manusia merupakan makhluk yang tersusun atas jiwa dan raga.
3.      Sifat kodrat
Manusia merupakan makhluk individu di satu sisi dan makhluk sosial di sisi yang lain.

C.    Pertumbuhan dan Perkembangan Peserta Didik
Sebagai manusia yang memiliki potensi kodrati, peserta didik memungkinkan untuk bisa tumbuh dan berkembang menjadi sosok makhluk yang sempurna. Istilah pertumbuhan pada diri peserta didik lebih diartikan sebagai bertambahnya tinggi badan, berat badan, semakin efektifnya fungsi-fungsi otot tubuh dan organ fisik, organ panca indera, dan lain-lain yang menyangkut kemajuan aspek fisik. Sedangkan perkembangan diartikan sebagai semakin optimalnya kemajuan aspek psikis peserta didik seperti kemampuan cipta, rasa, karsa, karya, kematangan pribadi, pengendalian emosi, kepekaan spiritualitas, keimanan, dan ketakwaan.
Tahapan pertumbuhan dan perkembangan peserta didik yang dimulai dari masa anak-anak sampai dewasa merupakan tahap-tahap yang disebut sebagai masa peka. Tahap-tahap perkembangan yang mengandung masa peka pada diri peserta didik telah banyak dikemukakan oleh tokoh-tokoh seperti Aristoteles, Kretschmer, S.Freud, Jean Piaget, Johann Amos Comenius, dan J.J.Rousseau.
Dalam bukunya Crow and Crow (Sutari Imam Barnadib, 1995), kita mengenal beberapa usia perkembangan, di antaranya adalah:
1.      Usia kronologis
2.      Usia kejasmanian
3.      Usia anatomis
4.      Usia kejiwaan
5.      Usia pengalaman
Charlotte Buhler mengemukakan bahwa perkembangan yang terjadi pada peserta didik berlangsung melalui tahap-tahap, yaitu:
1.      Masa permulaan
2.      Masa penanjakan sampai kira-kira umur 25 tahun
3.      Masa puncak hidup, pada umur 25 – 50 tahun
4.      Masa penurunan dan menarik diri dari kehidupan bermasyarakat
5.      Masa akhir kehidupan
Dari semua hal yang telah digambarkan tersebut, paling tidak ada lima asas perkembangan pada diri peserta didik menurut Sutari Imam Barnadib (1995):
1.      Tubuhnya selalu berkembang sehingga semakin lama semakin dapat menjadi alat untuk menyatakan kepribadiannya.
2.      Anak dilahirkan dalam keadaan tidak berdaya, hal ini menyebabkan dia terikat kepada pertolongan orang dewasa yang bertanggung jawab.
3.      Anak membutuhkan pertolongan dan perlindungan serta membutuhkan pendidikan untuk kesejahteraan anak didik.
4.      Anak mempunyai daya ekspresi, yaitu kekuatan untuk menemukan hal-hal baru di dalam lingkungannya dan menuntut pendidik untuk memberi kesempatan kepadanya.
5.      Anak mempunyai dorongan untuk mencapai emansipasi dengan orang lain.
Para ahli telah menyusun teori perkembangan peserta didik. Beberapa ahli telah membuat teori perkembangan peserta didik dengan orientasi beragam. Teori-teori tersebut, yaitu:
1.      Nativisme
Istilah nativisme berasal dari kata native yang berarti adalah terlahir. Teori ini menganggap bahwa pertumbuhan dan perkembangan individu semata-mata ditentukan oleh factor pembawaannya, yaitu aneka potensi. Teori ini dipelopori oleh Schopenhauer (1778-1860).
2.      Empirisme
Istilah lain dari empirisme adalah environmetalisme, sebab aliran ini menekankan pengalaman empiris yang berupa rangsangan-rangsangan yang berasal dari lingkungan (environment). Teori ini berpendapat bahwa perkembangan anak tergantung dari pengalamannya, sedangkan pembawaannya tidak penting. Teori ini dipelopori oleh John Locke.
3.      Naturalisme
Teori ini dipelopori oleh Jean Jacques Rousseau (1712-1778) yang berpendapat bahwa anak sejak lahir sudah membawa potensi baik. Adapun ia menjadi jahat disebabkan oleh pengaruh-pengaruh negative dari masyarakat yang memang sudah rusak atau jahat.
4.      Konvergensi
Teori ini dipelopori oleh William Stern (1871-1939). Teori konvergensi beranggapan bahwa pertumbuhan dan perkembangan individu disamping dipengaruhi oleh factor-faktor internal yaitu potensi yang dibawa sejak lahir juga dipengaruhi oleh pengalaman.

D.    Teori-teori Perkembangan Peserta Didik
Ada beberapa teori-teori perkembangan peserta didik, yakni:
1.      Teori Perkembangan Fisik Peserta Didik
Teori perkembangan peserta didik dikemukakan oleh Gasell dan Ames (1940) serta Illingsworth (1983). Perkembangan fisik mencakup berat badan, tinggi badan, termasuk perkembangan motorik. Dalam pendidikan, pengembangan fisik anak mencakup pengembangan: kekuatan (strength), ketahanan (endurance), kecepatan (speed), kecekatan (agility), dan keseimbangan (ballance).
Menurut Gasell dan Ames (1940) serta Illingsworth (1983) yang dikutip oleh Slamet Suyanto (2005), perkembangan motorik peserta didik pada anak usia dini mengikuti delapan pola umum sebagai berikut:
a.       Continuity (keberlanjutan), yakni suatu perkembangan dari yang sederhana kea rah yang lebih kompleks.
b.      Uniform sequence (kesamaan tahapan), yakni suatu perkembangan yang memiliki tahapan sama untuk semua anak.
c.       Maturity (kematangan), yaitu suatu perkembangan yang ada pada peserta didik yang dipengaruhi oleh perkembangan sel syaraf.
d.      From general to specific process (proses dari umum ke khusus), yakni suatu perkembangan yang dimulai dari gerak yang bersifat umum kepada gerak yang bersifat khusus. Dimulai dari gerakan menyeluruh oleh badan lalu baru bagian-bagiannya.
e.       Dari gerak refleks bawaan ke arah terkoordinasi, yakni suatu perkembangan yang dimiliki peserta didik yang dimulai dari gerak refleks bawaan yang dibawa sejak lahir ke dunia kepada aneka gerak yang terkoordinasi dan bertujuan.
f.       Chepalo-caudal direction, yakni suatu perkembangan yang ditandai dengan bagian yang mendekati kepalaberkembang lebih cepat daripada bagian yang mendekati ekor. Otot pada leher berkembang lebih dahulu daripada otot kaki.
g.      Proximo-distal, yakni suatu perkembangan yang ditandai dengan bagian yang mendekati sumbu tubuh berkembang lebih dahulu daripada yang lebih jauh.
h.      From bilateral to crosslateral coordinate, yakni suatu perkembangan yang dimulai dari koordinasi organ yang sama berkembang lebih dahulu sebelum bisa melakukan koordinasi organ bersilangan.

2.      Teori Perkembangan Biologis Peserta Didik
Teori perkembangan biologis peserta didik banyak dikemukakan oleh para ahli seperti Aristoteles, Kretschmer, S.Freud. Aristoteles dan Kretschmer melihat perkembangan peserta didik lebih pada tahap-tahap perkembangan fisik, tetapi Sigmund Freud lebih melihat pada pengaruh perkembangan fisik terhadap tahap-tahap perubahan perilaku libido seksual (psikoseksual).
Perkembangan peserta didik menurut Sigmund Freud (Dirto Hadisusanto, Suryati Sidharto, dan Dwi Siswoyo, 1995) dimulai dari sejal lahir sampai kira-kira umur 5 tahun melewati fase yang terdiferensiasi secara dinamik. Selanjutnya berkembang sampai umur 12 atau 13 tahun menglami masa stabil yaitu fase laten. Dinamika mulai bergejolak lagi ketika masa pubertas sampai berumur 20 tahun, kemudian berlanjut pada masa kematangan. Secara lebih jelas dapat dicermati lebih lengkap, sbb:
        Umur
      (Tahun)
          Fase
   Perkembangan
                             Perubahan
                               Perilaku
0,0 – 1,0
Masa Oral
Mulut merupakan daerah pokok aktivitas dinamik
1,0 – 3,0
Masa Anal
Dorongan dan tahanan berpusat pada fungsi
pembuangan kotoran
3,0 – 5,0
Masa Felis
Alat kelamin merupakan daerah erogen terpenting
5,0 – 13,0
Masa Laten
Impuls atau dorongan-dorongan cenderung
terdesak dan mengendap ke dalam bawah sadar
13,0 – 20,0
Masa Pubertas
Impuls-impuls mulai menonjol dan muncul lagi.
Apabila bisa dipindahkan dan disublimasikan oleh d
das ich dengan baik, maka ia bisa sampai pada
masa kematangan
20,0 ke atas
Masa Genital
Individu yang sudah mencapai fase ini telah
menjadi manusia dewasa dan siap terjun dalam
kehidupan masyarakat luas

3.      Teori Perkembangan Intelektual Peserta Didik
Tokoh dari perkembangan intelektual peserta didik adalah Jean Piaget (1896-1980). Piaget mengemukakan tahap-tahap yang harus dilalui seorang anak dalam mencapai tingkatan perkembangan proses berpikir formal. Menurut teori ini, perkembangan intelektual peserta didik melalui tahap-tahap. Setiap tahap perkembangan dilengkapi dengan ciri-ciri tertentu dalam mengkonstruksi ilmu pengetahuan.
Menurut Jean Piaget, perkembangan intelektual peserta didik berlangsung dalam empat tahap. Berikut adalah tahapan disertai penjelasannya dalam tabel:

     Umur
   (Tahun)
            Fase
    Perkembangan
                                Perubahan
                                  Perilaku
0,0 – 2,0
Tahap
Sensori Motor
Kemampuan berpikir peserta didik baru melalui
gerakan atau perbuatan.Perkembangan panca indera
sangat berpengaruh dalam diri mereka. Keinginan
terbesarnya adalah untuk menyentuh/ memegang,
karena didorong oleh keinginan untuk mengetahui
reaksi dari perbuatannya. Pada usia ini mereka
 belum mengerti akan motivasi dan senjata terbesar-
nya adalah ‘menangis’. Memberi pengetahuan
pada mereka pada usia ini tidak dapat hanya se-
kedar menggunakan gambar sebagai alat peraga,
melainkan harus dengan sesuatu yang bergerak.
2,0 – 7,0
Tahap
Pra-operasional
Kemampuan skema kognitif masih terbatas, suka
meniru perilaku orang lain. Terutama meniru
perilaku orang tua dan guru yang pernah ia lihat
ketika orang itu merespons terhadap perilaku orang,
keadaan, dan kejadian yang dihadapi pada
masa lampau. Mulai mampu menggunakan kata-
kata yang benar dan mampu pula mengekspresikan
kalimat pendek secara efektif.
7,0 – 11,0
Tahap
Operasional
Kongkrit
Peserta didik sudah mulai memahami aspek-aspek
kumulatif materi, misalnya volume dan jumlah;
mempunyai kemampuan memahami cara
mengkombinasikan beberapa golongan benda yang
tingkatannya bervariasi. Sudah mampu berpikir
sistematis mengenai benda-benda dan peristiwa-
peristiwa yang konkret.
11,0 – 14,0
Tahap
Operasional
Formal
Telah memiliki kemampuan mengkoordinasikan
dua ragam kemampuan kognitif, secara serentak
maupun berurutan. Misalnya kapasitas me-
rumuskan hipotesis dan menggunakan prinsip-
prinsip abstrak. Dengan kapasitas merumuskan
hipotesis peserta didik mampu berpikir memecah-
kan masalah dengan menggunakan anggapan dasar
yang relevan dengan lingkungan. Sedang dengan
kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak,
peserta didik akan mampu mempelajari materi
pelajaran abstrak, seperti agama, matematika,
dan lainnya.

Berdasarkan teori perkembangan dari Jean Piaget tersebut, selanjutnya dapat diketahui tiga dalil pokok Piaget dalam kaitannya dengan tahap perkembangan intelektual. Ruseffensi (1988) menyebutkan, sbb:
a.       Perkembangan intelektual terjadi melalui tahap-tahap beruntun yang selalu terjadi dengan urutan yang sama.
b.      Tahap-tahap perkembangan didefinisikan sebagai suatu cluster dari operasi mental (pengurutan, pengekalan, pengelompokkan, pembuatan hipotesis dan penarikan kesimpulan) yang menunjukkan adanya tingkah laku intelektual.
c.       Bahwa gerak melalui tahap-tahap tersebut dilengkapi oleh keseimbangan (equilibration), proses pengembangan yang menguraikan tentang interaksi antara pengalaman (asimilasi) dan struktur kognitif yang timbul (akomodasi).

4.      Teori Perkembangan Sosial Peserta Didik
Perumus teori perkembangan sosial peserta didik adalah Erik Erikson. Erikson mengembangkan teori tahap-tahap perkembangan psikoseksual dari Freud dengan menekankan pada aspek perkembangan sosial. Dia mengembangkan teori yang disebut teori perkembangan psikososial (theory of Psychosocial Development) dimana ia membagi tahap-tahap perkembangan manusia menjadi delapan tahapan.

       Umur
     (Tahun)
       Fase
Perkembangan
Perubahan
Perilaku
0,0 – 1,0
Trust
Vs
Mistrust
Tahap pertama adalah tahap pengembangan rasa
percaya diri kepada orang lain. Fokus terletak pada
panca indera, sehingga mereka sangat me-
merlukan sentuhan dan pelukan.
2,0 – 3,0
Autonomy
 vs
Shame
Tahap ini bisa dikatakan sebagai masa
pemberontakan anak atau masa ‘nakal’nya.
Namun kenakalannya tidak dapat dicegah begitu
saja, karena tahap ini anak sedang mengembangkan
kemampuan motorik (fisik) dan mental (kognitif),
sehingga yang diperlukan justru mendorong dan
memberikan tempat untuk mengembangkan motorik dan
mental. Pada saat ini anak sangat terpengaruh oleh
orang orang penting di sekitarnya, misal orang tua
dan guru.
4,0 – 5,0
Inisiative
 vs
Guilt
Mereka banyak bertanya dalam segala hal, sehingga
berkesan cerewet. Mereka juga mengalami
pengembangan inisiatif/ide, sampai pada hal-hal
yang berbau fantasi. Perkembangan lain yang harus
tercipta adalah identitas diri terutama yang ber-
hubungan dengan jenis kelamin. Anak belajar
menjadi laki-laki atau perempuan bukan hanya dilihat
dari alat kelaminnya tapi juga perlakuan orang di
sekelilingnya kepada mereka. Fase ini menjadi
penting karena umumnya dari  jenis kelamin. Anak
 laki- laki cenderung menjadi lebih sayang pada ibu,
anak perempuan lebih sayang pada ayah.
6,0 – 11,0
Industry
vs
Inferiority
Mereka sudah bisa mengerjakan tugas-tugas sekolah
dan termotivasi untuk belajar. Namun, masih
memiliki kecenderungan untuk kurang hati-hati dan
menuntut perhatian.
 12,0 – 18/20
Ego-identity
 vs
Role on fusion
Tahap ini manusia ingin mencari identitas dirinya.
Anak yang sudah beranjak menjadi remaja mulai
ingin tampil memegang peran-peran sosial di
masyarakat. Namun masih belum bisa mengatur dan
memisahkan tugas dalam peran yang berbeda.
18/19 – 30
Intimacy
 vs
Isolation
Memasuki tahap ini, manusia sudah mulai siap
menjalin hubungan yang intim dengan orang lain,
membangun bahtera rumah tangga bersama calon
pilihannya.
31 – 60
Generativity
vs
Stagnation
Tahap ini ditandai dengan munculnya kepedulian
yang tulus terhadap sesama. Tahap ini terjadi saat
seseorang telah memasuki usia dewasa.
60 ke atas
Ego integrity
 Vs Putus asa
Masa ini dimulai pada usia 60-an, dimana manusia
melalui mengembangkan integritas dirinya.

5.      Teori Perkembangan Mental Peserta Didik
Teori perkembangan mental peserta didik dicetuskan oleh Lev Vygotsky. Pendapatnya, bahwa siswa membentuk pengetahuan, yaitu apa yang diketahui siswa bukanlah hasil kopi dari apa yang mereka temukan di dalam lingkungan, tetapi sebagai hasil dari pikiran dan kegiatan siswa sendiri melalui bahasa. Lev Vygotsky lebih menekankan pada peran pengajaran dan interaksi sosial (Howe and Jones, 1993).
Sumbangan penting yang diberikan Vgotsky dalam pembelajaran adalah konsep zone of proximal development (ZPD) dan scaffolding.
a.       Konsep zone of proximal development (ZPD), adalah tingkat perkembangan sedikit di atas tingkat perkembangan seseorang saat ini.
b.      Scaffolding, berarti memberikan kepada siswa sejumlah besar bantuan selama tahap-tahap awal pembelajaran. Kemudian mengurangi bantuan tersebut dan memberikan kesempatan kepada anak tersebut mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar segera setelah ia dapat melakukannya (Slavin, 1995).
Ada dua implikasi utama teori Vygotsky dalam pendidikan (Howe and Jones, 1993), yaitu:
a.       Perlunya tatanan kelas dan bentuk pembelajaran kooperatif antarsiswa
b.      Pendekatan Vygtsky dalam pengajaran menekankan scaffolding.
Menurut teori Vygotsky, siswa perlu belajar dan bekerja secara berkelompok sehingga siswa dapat saling berinteraksi dengan lainnya disertai adanya bantuan guru terhadap para siswa tersebut dalam kegiatan pembelajaran.
6.      Teori Perkembangan Moral Peserta Didik
Teori perkembangan moral dikemukakan oleh John Dewey, lalu kemudian dikembangkan oleh Jean Piaget dan Lawrence Kohlberg (Freankel, 1977; Hersch et.al, 1980).
John Dewey membagi perkembangan moral anak menjadi tiga tahap tingkatan, yaitu:
a.      Premoral (preconventional), tingkah laku seseorang didorong oleh desakan yang bersifat fisikal atau social.
b.      Conventional, seseorang mulai bisa menerima nilai dengan sedikit kritis berdasarkan kepada criteria kelompoknya.
c.       Autonomus, seseorang sudah mulai bisa berbuat atau bertingkah laku sesuai dengan akal pikiran dan pertimbangan dirinya sendiri, tidak sepenuhnya menerima criteria kelompoknya.
Selain John Dewey, Jean Piaget juga membagi tahapan perkembangan moral peserta didik, sbb:
     Umur
   (Tahun)
             Fase
     Perkembangan
                                 Perubahan
                                   Perilaku
0,0 – 3,0
Non-Morality
Anak belum memiliki atau belum mengenal
moral
4,0 – 8,0
Heteronomous
Anak sudah mulai menerima dan memiliki
aturan begitu saja dari orang lain yang di-
pandang tidak bisa diubah. Pada tahap ini
disebut sebagai masa realism
(stage of moral realism) atau moralitas
berkendala (constraint morality). Tugas dan
kewajiban dipandangnya sebagai wujud
suatu kepatuhan.
9,0 – 12,0
Autonomus
Bahwa moral dipandang sebagai persetujuan
bersama secara timbal balik, dapat dipelihara
dan diubah sesuai kebutuhan kolektif.
Merupakan moralitas bekerjasama
(collaborate morality). Tugas dan kewajiban
dipandang sebagai kesesuaian dengan
harapan-harapan dan kesejahteraan bersama. 

E.     Tipologi Kepribadian Peserta Didik
Tokoh dari tipologi kepribadian peserta didik adalah Henry Alexander Murray. Dia berpendapat bahwa kepribadian akan lebih mudah dipahami dengan cara menyelidiki alam ketidaksadaran seseorang (unconscious mind). Perannya adalah dalam bidang diagnosa kepribadian atau teori kepribadian. Murray membagi tipe kepribadian peserta didik khususnya anak usia dini menjadi beberapa macam, yaitu:
a.       Autonomy, yaitu tipe kepribadian peserta didik yang ditandai dengan keinginan melakukan sesuau secara sendiri, tidak senang dibantu orang lain dan tidak senang disuruh-suruh
b.      Affiliation, yaitu kepribadian peserta didik yang ditandai dengan senang bersama anak lain, suka bersahabat, suka memperbanyak teman, dan salin membutuhkan dengan teman dan sahabatnya
c.       Succurance, yaitu kepribadian peserta didik yang ditandai dengan selalu manja, ingin orang lain membantunya, ingin selalu minta tolong
d.      Nurturrance, yaitu tipe kepribadian peserta didik yang ditandai dengan sikap pemurah yakni senang memberi kepada teman, senang meminjami, selalu membagi-bagi apa yang dimiliki kepada teman-temannya
e.       Agression, yaitu tipe kepribadian peserta didik yang ditandai dengan sikap-sikap agresif, mudah tersinggung dan marah, jika diganggu akan menyerang balik dengan keras bahkan berlebihan
f.       Dominance, yaitu tipe kepribadian peserta didik yang ditandai dengan ingin menguasai atau mengatur teman, ingin tampil menonjol, ingin menjadi ketua kelas atau pengurus kelas
g.      Achievement, yaitu tipe kepribadian peserta didik yang ditandai dengan semangat kerja yang tinggi untuk berprestasi, ingin bisa melakukan sesuatu karya, tugas-tugas di sekolah dikerjakan sungguh-sungguh dan cenderung tidak mau dibantu.

F.     Kecerdasan Ganda Peserta Didik
Pengungkapan kecerdasan ganda yang dimiliki anak sebagai peserta didik terjadi di awal tahun 1990-an. Menurut Howard Gardner, kecerdasan adalah kapasitas yang dimiliki seseorang untuk menyelesaikan masalah-masalah dan membuat cara penyelesaiannya dalam konteks yang beragam dan wajar. Menurutnya pula, kecerdasan jamak atau ganda meliputi unsur-unsur:
a.       Kecerdasan matematik
Adalah kemampuan akal peserta didik untuk menggunakan angka-angka secara efektif dan berfikir secara nalar. Mencakup  kepekaan terhadap pola-pola logis dan hubungannya, pernyataan-pernyataan, proposisi (jika-maka, sebab-akibat), fungsi-fungsi, dan abstrak-abstrak yang saling berkaitan. Peserta dengan kecerdasan matematik yang tinggi cenderung menyukai kegiatan menganalisis dan mempelajari sebab-akibat terjadinya sesuatu, berfikir secara konseptual, aktivitas berhitung dan memiliki kecepatan tinggi dalam menyelesaikan problem matematika. Apabila kurang memahami, mereka cenderung berusaha untuk bertanya dan mencari jawaban atas hal yang kurang dipahaminya tersebut.

b.      Kecerdasan lingual
Adalah kemampuan akal peserta didik untuk menggunakan kata-kata secara efektif, baik secara lisan maupun tulisan. Mencakup kemampuan untuk memanipulasi sintak atau struktur suatu bahasa, fonologi atau suara-suara bahasa, semantika dan pengertian dari bahasa serta dimensi dan kegunaan praktis dari suatu bahasa. Peserta dengan kecerdasan tinggi umumnya ditandai dengan kesenangannya pada membaca, menulis karangan, membuat puisi, menyusun kata mutiara, dsb. Peserta cenderung memiliki daya ingat yang kuat, lebih mudah belajar dengan cara mendengarkan dan verbalisasi, lebih cepat menguasai bahasa baru daripada peserta didik lain.

c.       Kecerdasan musikal
Adalah kemampuan yang dimiliki peserta didik untuk mempersepsikan, mendiskriminasikan, mengubah dan mengekspresikan bentuk-bentuk musik. Mencakup kepekaan terhadap ritme, tingkatan nada atau melodi, dan warna suara. Lebih peka terhadap suara-suara nonverbalyang berada di sekelilingnya, termasuk nada dan irama. Cenderung senang mendengar irama yang merdu dengan mendengar radio, menonton konser, dll. Mereka lebih mudah mengingat sesuatu dan mengekspresikan gagasannya apabila dikaitkan dengan musik.

d.      Kecerdasan visual-spasial
Adalah kemampuan peserta didik untuk menangkap dunia ruang-visual secara akurat dan melakukan perubahan-perubahan terhadap persepsi tersebut. Mencakup kepekaan terhadap warna, garis, bentuk, wujud, ruang, dan hubungan diantaranya. Memiliki kemampuan menciptakan imajinasi bentuk dalam pikirannya seperti menciptakan bentuk tiga dimensi, contohnya pemahat dan arsitek bangunan. Unggul dalam kemampuan pemecahan masalah yang berhubungan dengan visual-spasial seperti permainan mencari jejak.

e.       Kecerdasan kinestetik
Adalah kemampuan dalam menggunakan seluruh tubuhnya untuk mengekspresikan ide dan perasaan atau menggunakan kedua tangan untuk mentrasformasikan sesuatu. Mencakup keahlian fisik khusus seperti koordinasi, keseimbangan, ketangkasan, kekuatan, kelenturan, dan kecepatan. Mereka unggul di bidang olahraga, seni, dan sulap.

f.       Kecerdasan interpersonal
Adalah kemampuan untuk mempersepsikan dan mengankap perbedaan mood, tujuan, motivasi, dan perasaan orang lain. Termasuk kepekaan terhadap ekspresi wjah, suara, sosok postur, dan membedakan berbagai tanda interpersonal. Sering disebut sebagai kecerdasan sosial (social intellegence) karena dapat dengan mudah bersosialisasi dengan orang lain.

g.      Kecerdasan intrapersonal
Adalah kemampuan menyadari diri dan mewujudkan keseimbangan mental-emosional dalam diri peserta didik untuk bisa beradaptasi sesuai dengan dasar pengetahuan yang telah dimiliki.

h.      Kecerdasan natural
Adalah kemampuan untuk peka terhadap lingkungan alam. Teori dari Gardner kemudian dikembangkan dan dilengkapi oleh Daniel Goleman. Ia menekankan pada aspek kecerdasan interpersonal. Menurutnya, faktor emosi sangatlah penting. Ada lima wilayah kecerdasan pribadi dalam bentuk kecerdasan emosional, yaitu kemampuan mengenali emosi diri, kemampuan mengelola emosi, kemampuan memotivasi diri, kemampuan mengenali emosi orang lain, dan kemampuan membina hubungan.

G.    Peserta Didik Berbakat
Bakat adalah suatu kelebihan yang dimiliki peserta didik yang mengarah pada aneka kemampuan. Sedangkan minat adalah keinginan yang berasal dari dalam diri peserta didik terhadap obyek atau aktifitas tertentu. Kepemilikan bakat dan minat sangat berpengaruh pada prestasi hasil belajar peserta didik.Dalam satu kelas tentu tiap peserta didik memiliki minat dan bakat yang berbeda-beda. Menurut Yaumil, ada tiga kelompok ciri keberbakatan, yaitu:
a.       Kemampuan umum yang tergolong diatas rata-rata (above average ability)
b.      Kretivitas (creativity) yang tergolong tinggi
c.       Komitmen terhadap tugas (task commitment) yang tergolong tinggi
Sedangkan ciri peserta didik berbakat menurut Munandar adalah:
a.       Indikator intelektual/belajar
Mencakup kemudahan dalam menangkap belajar, kemudahan mengingat kembali, memiliki perbendaharaan kata yang luas, penalaran yang tajam, daya konsentrasi yang baik, senang membaca, mampu mengungkapkan pikirannya, cepat memecahkan soal, dan sebagainya.
b.      Indikator kreativitas
Mencakup memiliki rasa ingin tahu yang besar, memberi banyak gagasan terhadap suatu masalah, menghargai rasa keindahan, tidak mudah terpengaruh orang lain, dapat bekerja sendiri, senang mencoba hal baru, dan sebagainya.

c.       Indikator motivasi
Mencakup tekun menghadapi tugas, ulet menghadapi kesulitan, selalu berusaha berprestasi sebaik mungkin, cepat bosan dengan tugas rutin, penuh semangat, menunjukkan minat terhadap masalah-masalah orang dewasa, dan sebagainya.






















PESERTA DIDIK
MAKALAH ILMU PENDIDIKAN


Disusun oleh:
Ahmad Fatchur Rahman 11413241014
Primanti Puspita Sari 11413241017
Prasetyo Nugroho Jati Rahman 11413241018
Novella Putri Prahardika 11413241029
Yosy Astari Putri 11413241031
Deta Sofia Rahmadiani 11413241035
Musafahutsalis 11413241037
Agata Hayu Dewani 11413241042

PENDIDIKAN SOSIOLOGI A
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar