Sabtu, 29 Desember 2012

lapisan masyarakat


1. Pelapisan masyarakat (stratifikasi sosial).
Stratifikasi berasal dari bahasa latin “stratus” yang artinya lapisan/tingkatan. Di dalam masyarakat terdapat sejumlah lapisan dengan jumlah yang berbedabeda. Hal itu tidak lain karena di masyarakat terjadi perbedaan sosial. Seorang sosiolog Pitiram A.osorkin, dalam bukunya yang berjudul social and cultural mobility mngemukakan bahwa sistem berlapis-lapis tiu merupakan ciri yang tetap dan umum dala, setiap masyarakat yang hidup teratur. Ia menyebut sistem berlapis-lapis dalam masyarakat itu dengan istilah social stratification. Selanjutnya, dikatakan bahwa social stratification adalah penggolongan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat dan wujudnya adalah kelas-kelas tinggi dan kelas-kelas rendah.
Bahkan pada zaman kuno dahulu, filosof Aristoteles (Yunani), mengatakan di dalam Negara ada tiga unsur, yaitu mereka yang kaya sekali, yang melarat, dan yang berada diantara keduanya.ucapan demikian sedikit banyak membuktikan bahwa pada zaman itu, dan sebelumnyaorang telah mengakui adanya lapisan masyarakat yang mempunyaikedudukan yang bertingkat-tingkat dari yang bawah sampai yang atas.
Barang siapa yang memiliki sesuatu yang berharga dalam jumlah yang banyak, dianggap masyarakat berkedudukan dikalngan atas. Mereka yang sedikit sekali atau bahkan yang tidak sesuatu yang berharga dalm pandangan masyarakat mempunyai kedudukan yang rendah. Di antara lapisan yang atasan dan rendah itu, ada lapisan jumlahnya dapat ditentukan sendiri olah mereka yang hendak mempelajari system lapisan masyarakat itu.
Biasanya golongan lapisan masyarakat atas tifak hanya memiliki satu macam saja dari apa yang dihargai oleh masyarakat, tetapi kedudukannya yang tinggi itu bersifat komulatif. Mereka yang memilki uang banyak, akan mudah sekali mendapatkan tanah, kekuasaan dan mungkin juga kehormatan, sedang mereka yang mempunyai kekuasaan besar mudah menjadi kaya dan mengusahakan ilmu pengetahuan.

System lapisan dalam masyarakat tersebut, dalam sosiologi ddikenal dengan social stratification. Kata stratification berasal dari stratum, jamaknya strata yang berarti lapisan. Pitirim A. Sorokin menyatakan bahwa social stratification adalah pembedaan penduduk atau masyarakat kedalam kelas yang bertingkat-tingkat (hirarkis).
Perwujudannya adalah kelas tinggi dan kelas yang lebih rendah. Selanjutnya menrut Sorokin, dasar dan inti lapisan masyarakat tidak adanya keseimbangan dalam pembagian hak dan kewajiban, kewajiban dan tangggung jawab nilai-nilai sosial dan pengaruhnya diantara anggota-anggota masyarakt.
Masyarakat yang berstratifikasi sering dikiaskan dengan gambar sebuah limas yang berlapis-lapis. Lapisan bawah adalh yang paling besar dan lapisan berikutnya menjadi lebih sempit. Terdapat pendapat yang menyamakan antara lapisan dengan kelas.
Namun sebenarnya terdapat perbedaan antara keduanya. Marx berpendapat bahwa kelas adalah suatu lapisan masyarakat yang orangnya mempunyai kedudukan dan peran yang sama terhadap alat-alat produksi dan peredaran barang. Karena mereka mempunyai kepentingan ekonomi yang sama, menghadapi nasib dan masalah kehidupan yang sama, dan harapan serta cita-cita yang sama pula.
Berdasarkan hubungan kriteria kelas dikaitkan dengan kriteria ekonomi, Aristoteles membedakan kelas sosial menjadi tiga macam, yaitu kelas kaya, kelas menengah, dan kelas bawah.
Setiap masyarakat memeiliki sistem hirarki. Dalam hirarki ini para anggota masyarakat ditempatkan pada posisi sosial tertentu, misalnya posisi tinggi maupun rendah, posisi superior maupun inferior. Posisi-posisi tersebut terlihat ketika mereka saling berhubungan. Kenyataan inilah yang dinamakn stratifikasi sosial.
Stratifikasi sosial juga menunjukkan status sosial seseorang di dalam masyarakat. Oleh karena itu, ia menunjukkan posisi sosial seseorang dalam hubungannya dengan pihak lain, sesuai dengan rangkina yang ditetapkan masyarakat baginya. Rangking tersebut ditetapkan berdasarkan kriteria sosial yang terdiri atas nilai-nilai sosial dalam masyarakat itu sendiri.
Pada suatu masyarakat lain, kasta, nama keluarga, kesalehan dan latar belakang kehidupanlah yang menjadi kriteria-kriteria sosial yang terpenting. Selain itu, ada pula masyarakat yang mendasarkan penilaian dan penentuan status sosial pada pendidikan dan pemilikan tanah. Jadi, kriteria sosial yang bagaimanapun bentuknya berfungsi untuk menilai dam menempatkan orang-oarang atau grup dalam beberapa stratum, dalam sistem hirarki masyarakat. Golongan (stand) dan kasta

Perubahan masyarakat tradisional ke arah modern menimbulkan pergeseran peran serta fungsi dan lembaga-lembaga lama ke yang baru. Ada yang mempertahankan status quo dan memandang perubahan sebagai ancaman, dilain pihak terdapat golongan elite baru yang melancarkan pembaharuan. Pergeseran-pergeseran tersebut melahirkan sejumlah teori pelapisan sosial, ada yang menganggap sesuatu yang wajar, fungsional dan sebagainya. Tetapi pada hakikatnya pelapisan mengacu kepada urutan dan tatanan yang hierarkis seperti tinggi rendah,”unggul-biasa”, superior-inferior,”priyayi-wong cilik”,”kaum ningrat-rakyat jelata”,”santri-abangan”, selalu tercangkup dalam lapisan sosial.
1. Pelapisan masyarakat
Sebab asasi mengapa ada pelapisan sosial dalam masyarakat bukan saja karena ada perberdaan, tetapi karena kemampuan manusia menilai perbedaan itu dengan menerapkan berbagai kriteria. Artinya menganggap ada sesuatu yang dihargai, maka sesuatu itu (dihargai) menjadi bibit yang menumbuhkan adanya sistem berlpis-lapisan dalam masyarakat. Sesuatu yang dihargai dapat berupa uang atau benda-benda ynag mempunyai nilai ekonomis, kekuasaan, ilmu pengetahuan, kesholehan dalam agama, atau keturunan keluarga yang terhormat. Dan akan melahirkan lapisan sosial yang mempunyai kedudukan atas dan kedudukan bawah.
Proses terjadinya sistem lapisan-lapisan dalam masyarakat dapay terjadi dengan sendirinya, atau sengaja disusun untuk mengejar suatu tujuan bersama. Sistem pelapisan sosial yang sengaja disusun biasanya mengacu kepada pembagian kekuasaan dan wewenang yang resmi dalam organisasi formal. Agar dalam masyarakat manusia dapat hidup dengan teratur, maka kekuasaan dan wewenang yang ada harus dibagi-bagi dengan teratur dalam suatu organisasi vertikal atau horisontal. Bila tidak, kemungkinan besar akan terjadi pertentangan dalam masyarakat.
Sifat dari sistem berlapis-lapisan dalam masyarakat ada yang tertutup dan
ada yang terbuka. Yang bersifat tertutup tidak memungkinkan pindahnya orang dan suatu lapisan ke lapisan yang lain, baik gerak pindahnya ke atas atau ke bawah. Keanggotaan dari lapisan tertutup diperoleh melalui kelahiran. Sistem lapisan tertutup dapat dilihat pada masyarakat yang berkasta, masyarakat yang feodal, atau masyarakat yang sistem pelapisannya bersifat terbuka, setiap anggota mempunyai kesempatan buat berusaha dengan kecakapannya sendiri untuk naik lapisan, atau kalau tidak beruntung, dapat jatuh kelapisan di bawahnya.

2. Kelas sebagai dimensi pelapisan sosial
Karl Marx beranggapan, bahwa masyarakat dan kegiatan-kegiatannya pada dasarnya merupakan alat-alat yang terorganisasi agar manusia dapat tetap hidup. Di sana kelas merupakan kenyataan dalam masyarakat yang timbul dari sistem produksi, akibat ada anggota yang memiliki tanah dan alat-alat produksi dan yang tidak mempunyai serta hanya memiliki tenaga untuk disumbangkan dalam proses produksi.
Istilah kelas terkadang tidak selalu mempunyai arti yang sama. Ada kalanya yang dimaksud dengan kelas ialah semua orang dan keluarga ynag sadar akan kedudukannya di dalam suatu lapisan, sedangkan kedudkan mereka itu diketahui serta diakui oleh masyarakat umum.
Pandangan lain terhadap kelas-kelas ada yang menggunakan penilaian fungsional dan historis. Terbentuknya kelas-kelas menurut aliran fungsional diperlukan untuk menyesuaikan masyarakat dengan keperluan yang nyata dan gejalanya dimengerti apabila diketahui riwayat terjadinya seprti dalam abad ke-19, yaitu sebagai berikut:
  1. pada awalnya manusia hidup berkelompok tanpa tatanan sosial tertentu. Setiap pribadi merdeka dan sama derajat. Sarana produksi belum tercipta, sehingga penduduk tidak terbagi-bagi atas dasar pemilikan keahlian.
  2. usaha tani berkembang, sumber daya terbatas sehingga menuntut hadirnya peralatan-peralatan khusus yang pada gilirannya menciptakan kesempatan-kesempatan baru atas penguasaan alat yang tidak setiap orang mampu memilikinya. Yang tidak mampu membeli atau menyewa peralatan mesti bekerja keras atau bekerja bagi yang memiliki. Secara mendasar manusia mulai terbagi, dan prinsip perbudakan mulai merembes dan menggeser struktur dasar.
  3. perbudakan berkembang berubah kearah prinsip-prinsip kuli kontrak. Orang yang dulunya budak  pelan-pelan bergeser statusnya mengikuti pergeseran pemilikan lahan. Meskipun mereka merdeka, keterikatan pada lahan membuatnya tidak berdaya mengikuti kehendak tuan-tuan tanah. Meski nyawa tetap di badan, namun bila tanah garapan dijual dan tuan pemilik berganti, maka terbawa pula seluruh kuli yang ada di dalam tata usaha pengolaan lahan itu.
  4. prinsip kuli kontrak memberi kesempatan bagi tumbuhnya benih-benih feodalisme, tata penguasaan di tangan minoritas bangsawan. Buruh jadi bergantung pada lahan usaha tempat ia mengandalkan hidupnya. Dirnya terikat kepada Aristrokrat. Hak-hak yang dimilikinya baik hak sipil maupun hak sosial tetap saja hilang.
  5. struktur dasar bergeser kearah prinsip borjuis. Lapisan ini bukan petani, bukan aristokrat melainkan kelas menengah. Dengan memiliki alat dan sarana-sarana produksi, kelompok ini mampu menguasai indusri dan mesin.
  6. kini kaum borjuis memperoleh keuntungan yang besar. Maka muncul gejala baru, yaitu lapisan ini menjadi embrio sebuah kapitalisme industri. Perkembangan selanjutnya adalah memberi peluang terhadap terjadinya pertentangan kelas.
Bentuk lapisan masyarakat berbeda-beda dan banyak sekali. Lapisan-lapisan tersebut tetap ada, sekalipun dalam masyarakat kapitalis, demokratis, komunistis, dan lain sebagainya. Lapisan masyarakat tersebut mulai ada sejak manusia mengenal adanya kehidupan bersama dalam satu organisasi sosial. Misalnya pada masyarakat yang bertaraf kebudayaan masih bersahaja. Lapisan masyarakat mula-mula didasarkan dari perbedaan seks, perbedaan anatara pemimpin dan yang dipimpin, golongan buangan budak dan bukan buangan budak, pembagian kerja dan bahkan juga suatu pembedaan berdasarkan kekayaan. Semakin rumit dan semakin maju teknologi masyarakat, semakin kompleks pula system suatu masyarakat.
Lapisan tersebut, tidak hanya dijumpai pada masyarakat manusia tetapi juga pada masyarakat hewan merayap, menyusui, dan lain sebagainya. Bahkan dikalangan hewan menyususi, umpamanya kera, ada lapisan pimpinan dan yang dipimpin, ada pula perbedaan pekerjaan yang didasarkan perbedaan seks. Demikian juga dikalangan dunia tumbuh-tumbuhan. Dikenal ada tubuhanan parasitis, yang sanggup berdiri sendiri.
Bentuk-bentuk konkrit lapisan masyarakat tersebut banyak. Akan tetapi secara prinsipil bentuk tersebut dapat diklasifikasikan ketiga macam kelas, yaitu yang ekonomis, politis, dan yang didasarkan pada jabatan-jabatan trtentu dalam masyarakat. Umumnya ketiga pokok tersebut mempunyai hubunyan erat satu dengan yang lainnya, di mana terjadi saling pengaruh mempengaruhi.
Misalnya, mereka yang masuk dalam lapisan ats dasar ukuran politis, biasanya juga merupakan orang-orang yang meduduki suatu lapisan tertentu atas dasar lapisan ekonomis. Demikian pula mereka yang kaya biasanya menempati jabatn-jabatan yang senantiasa penting. Akan tetapi, tidak semua demikian keadaanyan. Hal itu semuanya tergantung pada system nilai yang berlaku serta berkembang dalam masyarakat bersangkutan.
Selain itu, adapula masyarakat yang mendasarkan penilaian dan penentuan status sosial pada pendidikan dan pemikiran tanah. Jadi kriteria sosial bagaimanapun bentuknya berfungsi untk menilai dan menempatkan orang-orang atau grup dalm stratum, dalm system hirarki masyarakat. Sehingga adanya beberapa system yang lahir dalam stratifikasi masyarakatn yaitu:
  1. system kasta.
Istilah kasta diambil dari kata Portugis “casta”, yang berarti keturunan atau ras. Adapun di India istilah Varna berarti warna dipakai sebagai sinonim kata tersebut. Lumberg menjelaskan bahwa kasta merupakan suatu kategori yang anggotanya yang ditunjuk dan ditetapkan pada status yan permanen dalam hirarki sosial yang diberikan serta perhubungannya dibatasi sesuai dengan statusnya. System kasta ini merupakan bentuk yang paling kaku dan mempunyai garis batas yang paling jelas dari bentuk stratifikasi sosial.
  1. System kelas.
Bertolak belakang dengan system kasta yang kau dan tertutup, system kelas lebih fleksibel dan membuka kemungkinan membuka gerak sosial. Oleh karena itu kelas tidak terorganisoir dan juga tidadk tertutup atas dasar penentuan hukum atau agama seperti yang terdapat dalam stratum dengan sistemnya yang kaku dan mudah diidentifikasi. Kelas sosial bukan warisan keluarga, kelas sosial dapat dicapai dan diubah sesuai dengan usaha dan prestasi seseorang walaupun besarnya mobilitas seperti itu dari masyarakat ke masyarakat lainnya sangat bervariasi.
Adapun stratifikasi sosial cenderung mengekalkan diferensiasi atau perbedaan peranan dan status tersebut. Orang-orang melalui proses tertentu, ditetapkan (fixed) dalam struktur masyarakat. Dalam beberapa kasus, peranan dan status berkembang sangat tetap sehingga stratifikasi sosial yang mengindikasikan peranan dan status itu sangat tertutup dan kaku. Dalam deferensiasi, strata yang dimiliki seseorang dianggap taraf permulaan bagi terciptanya stratifikasi sosial, hal itu tidak terjadi begitu saja, melainka melalui prosesyang panjang.
Awal mulanya dengan membedakan seseorang dengan yang lain, dipilih dan diklasifikasikan dalam grup-grup dan selanjutnya perbedaan itu cenderung menjadi tetap (fixed) dan terciptalah stratifikasi sosial itu dalam masyarakat. Namun demikian, tidak ditafsir bahwa semua diferensiasi akan mengarahkan kepada stratifikasi soosial. Sebab didalam masyarakat terdapat kekuatan atau daya yang mendorong penghapusan perbedaan atau diskriminasi di antara sesama musia. Humberg menjelaskan bahwa stratifikasi sosial merupakan devinisi dari suatu populasi kedalam atau lebih lapisan dan setiap lapisan itu relatif homogen.

2. Dasar terjadinya lapisan masyarakat.
Lapisan-lapisan sosial masyarakat atau stratifikasi sosial dalam masyarakat bisa terjadi, dikarenakan tidak adanya keseimbangan dalam pembagian hak-hak dan kewajiban serta bertanggung jawab diantara anggota-anggota masyarakat yang bersangkutan. Sehingga muncul proses dimana kemunculan itu bisa dengan sendirinya dalam proses pertumbuhan masyarakat itu sendiri. Kemudian lapisan masyarakat yang munculnya disengaja yang disusun untuk mengejar suatu tujuan bersama. Dan yang menjadi faktor utama munculnya lapisan sosial sengaja adalah kepandaian, tingkat umur (yang senior), sifat keaslian keanggotaan kerabat seorang kepala masyarakat.
Dilihat dari prosesnya, stratifikasi sosial dalam masyarakat dapat terjadi dengan sendirinya, tetapi juga terdapat unsur-unsur kesengajaan untuk dibuat bertingkat-tingkat.
Koencoroningrat mengemukakan bahwa sesuatu yang berharga dapat dibedakan menjadi tujuh macam, yaitu:
  1. Kualitas atau kepandaian.
  2. Tingkat usia atau senioritas.
  3. Sifat keaslian.
  4. Keanggotaan kaum kerabat kepala masyarakat.
  5. Pengaruh dan kekuasaan.
    1. Pangkat dan jabatan.
    2. Dan kekayaan harta benda.
Secara teorotis semua manusia dapat dianggap sederajat. Akan tetapi sesuai dengan kenyataan hidup kelompok-kelompok sosial, halnya tidaklah demikian. Pembedaan atas lapisan merupakan gejala universal yang merupakan bagian system sosial setiap masyarakat.
Untuk meneliti terjadinya proses-proses lapisan masyarakat, dapatlah pokok-poko sebagai berikut:
  1. sistem lapisan mungkin berpokok pada system pertentangan dalam masyarakat. System demikian mempunyai arti yang khusus bagi masyarakat tertentu yang menjadi objek penyelidika.
  2. sistem lapisan dapat dianalisis dalam ruang lingkup unsure-unsur sebagai berikut:
    1. distribusi hak-hak istimewa yang obyektif seperti misalnya penghasilan, kekayaan, keselamatan (kesehatan laju angka kejahatan), wewenang, dan sebagainya.
    2. sistem pertanggaan yang diciptakan para warga masyarakat (prestise dan penghargaan).
    3. kriteria system pertentangan, yaitu apakah didapat berdasarkan kualitas pribadi, keanggotaan kelompok kerabat tertentu, milik, wewenang atau kekuasaan.
    4. lambang-lambang kedudukan, tingkah laku hidup, cara berpakaian, perumahan, keanggotaan pada suatu organisasi dan selanjutnya.
    5. mudah atau sukarnya bertukar kedudukan.
    6. solidaritas diantara individu-individu atau kelompok yang menduduki kedudukan yang sama dalam system sosial masyarakat.
Seperti telah diuraikan ada pula system lapisan yang disengaja disusun untuk mengejar tujuan bersama. Hal itu biasanya berkaitan dengan pembagian kekuasaan dan wewenag resmi dalam organisasi formal, seperti pemerintah, perusahaan, partai politik, angkatan bersenjata atau perkumpulan. Kekuasaan dan wewenang merupakan unsure-unsur khusu dalam system lapisan.
Hubungan-hubungan yang ada dalam masyarakat, merupakan hubungan antar peranan antar individu dalam masyarakat. Peranan di atur oleh norma-norma yang berlaku. Misalnya, norma kesopanan menghendaki agar seorang laki-laki bila berjalan bersama seorang wanita harus disebelah luar. Peranan yang melekat pada diri seseorang harus dibedakan dengan posisi dalam perrgaulan kemasyarakatan. Jadi, seseorang menduduki suatu posisi dalam masyarakat serta menjalankan suatu peranan.
Selo soemarjan mengemukakan bahwa pelapisan-pelapisan sosial dalam masyarakat itu akan selalu ada selama di dalam masyarakat tersebut terdapat sesuatu yang dihargai dan sesuatu yang dihargai tersebut akan merupakan bibit yang menumbuh adanya pelapisan sosial.
Selo soemarjan berpendapat bahwa sesuatu yang dihargai tersebut, dapat berupa materi (uang), kekuasaan, pengetahuan, kesolehan dalam agama, pekerjaan, dan kecakapan. Jelfa lebo menjelaskan bahwa dalam setiap masyarakat pasti memiliki sesuatu yang dihargai inilah sesungguhnya merupakan bibit yang dapat menumbuhkan adanya sistem berlapis-lapis dalam masyarakat.
Dilihat dari prosesnya stratifikasi sosial dalam masyarakat dapat terjadi dengan sendirinya. Setiap anggota masyarakat dimasukkan dalam status dari berbagai level, atas dasar faktor-faktor sosial yang dituntut masyarakat. Faktor-faktor tersebut merupakan kriteria yang ditetapkan secara sosial berdasarkan nilai sistem sosial yang dipandang berharga oleh masyarakat.
Beberapa kriteria umum penentuan status dalam stratifikasi sosial, yaitu sebagai berikut:
  • Ø kekayaan dalam berbagai bentuk yang diketahui oleh masyarakat diukur dalam kuantitas atau dinyatakan secara kualitatif. Standar kehidupan yang diperlihatkan serta sumber-sumber kekayaan secara kualitatif. Standar kehidupan yang diperlihatkan serta sumber kekayaan secara sosial bermakna untuk menentukan status dalam stratifikasi yang ada.
  • Ø daya guna fungsional orang-perorangan dalam hal pekerjaan, misal sebagai eksekutif, guru, ilmuan, buruh biasa atau yang terampil sangat menentukan dan memengaruhi status.
  • Ø keturunan menunjukkan reputasi keluarga, lamanya berdiam di suatu tempat, latar belakang rasial atau etnis dan kebangsaan.
  • Ø agama  menunjukkan tingkat kesalehan seseorang dalam menjalankan ajaran agamanya.
Dari berbagai hal di atas apabila suatu masyarkat hendak hidup dengan teratur, maka kekuasaan dan wewenang yang ada harus dibagi dengan teratur pula. Sehingga jelas bagi setiap orang di tempat mana lentaknya kekuasaan dan wewenang dalam organisasi, secara vertikal dan horisontal. Sehingga perihal dalam berbagai aspek mengenai pelapisan masyarakat itu harus mencangkup berbagai aspek terutama yang telah tertera di atas.

3. Sifat-sifat lapisan masyarakat.
sifat dan system pelapisan sosial di dalam suatu masyarakat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu ada yang bersifat tertutup, ada yang bersifat terbuka, dan ada yang bersifat campuran. Yang bersifat tertutup membatasi kemungkunan pindahnya seseorang dari satu lapisan kelapisan yang lain. Baik yang merupakan gerak ke atas atau bawah. Di dalam system yang demikian, satu-satunya jalan untuk menjadi anggota suatu lapisan dalam masyarakat adalah kelahiran.
Sebaliknya di dalam system terbuka, setiap anggota masyarakat mempunyai kesempatan untuk berusaha dengan kecakapan sendiri untuk naik lapisan, atau, bagi mereka yang tidak beruntung, untuk jatuh dari lapisan atas kelapisan bawahnya. Pada umumnya system terbuka ini memberi perangsang yang lebih besar kepada setiap anggota masyarakat untuk dijadikan landasan pembangunan masyarakat dari ada system yang tertutup.
System tertutup jelas terlihat pada masyarakat India yang berkasta. Atau didalam masyarakat yang feodal, atau di dalam masyarakatnya yang mana lapisannya tergantung pada perbedaan rasial. Apabila ditelaah pada masyarakat India, system lapisan disana sangat kaku dan menjelma dalam diri kasta-kasta. Kasta di India mempunyai cirri-ciri tertentu, yaitu:
  1. keanggotaan pada kasta diperoleh karena kewarisan/kelahiran.
  2. Keanggotaan yang diwariskan itu berlaku seumur hidup, oleh karena seseorang tak mungkin mengubah kedudukannya, kecuali dia dikeluarkan dari kastanya.
  3. Perkawinan bersifat endogam, artinya harus dipilih dari orang yang sekasta.
  4. Hubungan antara kelompok-kelompok sosial lain sifatnya terbatas.
  5. Kesadaran pada keanggotaan suatu kasta yang tertentu, terutama nyata dari nama kasta, identifikasi anggota pada kastanya, penyesuaian diri yang ketat terhadap norma-norma kasta.
  6. Kasta diikat oleh kedudukan yang secara tradisional telah ditetapkan.
  7. Prestise suatu kasta sangat diperhatikan.
Sistem kasta di India telah ada sejak abad-abad yang lalu. Istilah untuk kasta dalam bahasa India dinamakan yati; sedangkan sistemnya disebut varna. Menurut  kitab Rig-Veda dan kitab-kitab Brahmana, dalam masyarakat India kuno dijumpai empat varna yang tersusun dari atas ke bawah. Masing-masing adalah kasta Brahmana, Ksatria, Vaicya, Sudra. Kasta Brahmana merupakan kasta para pendeta, yang dipandang sebagai lapisan tertinggi. Ksatria merupakan kasta-kasta bangsawan dan tentara, dipandang sebagai lapisan yang kedua. Kasta Vaicya merupakan kasta para pedagang yang dianggap sebagai lapisan yang menengah (ketiga) dan Sudra adalah kasta orang-orang biasa (jelata).
Mereka yang tak berkasta, adalah golongan Paria. Susunan kasta tersebut sangat kompleks dan hingga kini masih dipertahankan dengan kuat, walaupun orang-orang India sendiri kadangkala tidak mengakuinya. Sistem kasta semacam  di India, juga dijumpai di Amerika Serikat, dimana terdapat pemisahan yang tajam antara golongan kulit putih dengan golongan kulit berwarna terutama oranr-orang Negro. Sistem tersebut dikenal dengan segregation yang sebenarnya tidak berbeda jauh dengan sistem apartheid yang memisahkan golongan kulit putih dengan golongan asli di Uni Afrika Selatan.
Dan yang ketiga adalah system lapisan yang campuran sehingga bisa memberikan kesempatanpada seseoranguntuk melakukan perpindahan dari satu lapisan kelapisan lain, baik gerak keatas maupun kebawah. Namun demikian itu dibirikan kepada blok-blok tertentu. Seperti halnya untuk menjadi pejabat tertentu dipersyaratkan tentang IQ seseorang tersebut.
Akan tetapi, apabila suatu maysrakat hendak hidup dengan teratur, maka kekuasaan dan wewenang yang ada harus dibagi dengan teratur pula. Sehingga jelas bagi seseorang ditempat mana letaknya kekuasaan dan wewenang dalam organisasi secara vertikal dan horizontal.
Apabila kekuasaan dan wewenang tidak dibagi secara teratur, maka kemungkinan besar akan terjadi pertentangan-pertentangan yang dapat membahayakan keutuhan-keutuhan masyarakat. Dengan demikian mau tidak mau  ada system lapisan masyarakat, karena dengan adanya lapisan tersebut maka permasalahan dalam masyarakat dapat diselesaikan, seperti halnya penempatan individu dalam tempat-tempat yang tersedia dalam struktur sosial dan mendorong agar masyarakat bergerak susuai dengan fungsinya.
Karena tergantung pada bentuk dan kebutuhan masing-masing masyarakat. Jelas bahwa kedudukan dan peranan yang dianggap tertinggi oleh setiap masyarakat adalah kedudukan dan peranan yang dianggap terpenting serta memerlukan kemampuan dan latihan-latihanyang maksimal.
Dengan demikian masyarakat menghadapi dua persoalan, pertama menempatkan individu-individu tersebut dan kedua mendorong agar mereka melaksanakan kewajibannya. Apabila semua kewajiban selalu usai dengan keinginan si individu, dan sesuai pula dengan kemampuan-kemampuannya dan seterusnya, maka persoalan tidak akan terlalu sulit untuk dilaksanakan. Tetapi kemampuan dan latihan-latihan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar